PENDUDUK MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………….. 1
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang...............................................................................................
BAB
II. PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
2.1 Pengertian
Pertumbuhan Penduduk..............................................................
2.2 Perkembangan
Penduduk Dunia....................................................................
2.3 Penggandaan
Penduduk Dunia......................................................................
2.4 Faktor
– Faktor Demografi Yang Mempengaruhi Pertambahan Penduduk..
2.4.1
Menuliskan Rumus Tingkat Kematian Kasar....................................
2.4.2
Menuliskan Rumus Tingkat Kematian Khusus.................................
2.4.3
Menuliskan Angka Kelahiran............................................................
2.5 Migrasi...........................................................................................................
2.5.1
Pengertian Migrasi.............................................................................
2.5.2
Macam – Macam Migrasi..................................................................
2.5.3
Proses Migrasi....................................................................................
2.5.4
Akibat Dari Migrasi...........................................................................
2.6 Jenis
Struktur Penduduk................................................................................
2.7 Bentuk
Piramida Stasioner, Muda, Tua.........................................................
2.8 Pengertian
Rasio Ketergantungan.................................................................
BAB
III. KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
3.1 Pertumbuhan
perkembangan budaya di indonesia........................................
3.2 Kebudayaan
Hindu, Budha dan Islam...........................................................
BAB
IV. KEBUDAYAAN BARAT
4.1
Pengertian Kebudayaan Barat.......................................................................
BAB
V. KESIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA
5.1 Kesimpulan....................................................................................................
5.2 Daftar
Pustaka................................................................................................
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pertumbuhan
penduduk yang semakin cepat, mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang
meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Dengan adanya
pertumbuhan aspek – aspek kehidupan tersebut, maka bertambahlah system mata
pencaharian hidup dari homogen menjadi kompleks.
Berbeda
dengan mahluk lain, manusia mempunyai kelebihan dalam kehidupannya, manusia
dapat memanfaaatkan rokhaniah maupun kebudayaan kebendaan. Akibat dari
perkembangan akal budi telah terungkap pada perkembangan kebudayaan. Baik kebudayaan
rohaniah maupun kebudayaan kebendaan.. Akibat dari perkembangan kebudayaan ini,
telah mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ledakan
pertumbuhan penduduk akan berdampak pada penyediaan bahan pangan dunia. Dengan
banyaknya jumlah penduduk akan berpengaruh pada penyediaan pangan dunia.
Tingkat pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan bahan pangan dunia sangat erat
hubungannya.
Meningkatnya
jumlah penduduk harus disertai dengan jumlah bahan pangan dunia yang tersedia.
Banyaknya penduduk akan mengurangi lahan yang akan digunakan untuk pertanian,
perternakan, dan lahan-lahan untuk produksi pangan. Dengan berkurangnya lahan
hijau di dunia karena banyaknya jumlah penduduk, maka kualitas alam dalam
penyediaan kebutuhan manusia khususnya pangan semakin menurun sebagai akibat
pertumbuhan penduduk. Sikap pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap
keseimbangan antara pertumbuhan jumlah penduduk dan ketersediaan bahan pangan
sangatlah penting. Sehubungan dengan itu, Indonesia sebagai Negara berkembang
di wilayah Asia pun tidak terlepas dari permasalahan ketersedian bahan pangan.
Sehubung
dengan hal tersebut dalam pokok bahasan ini. Akan ditelaah mengenai pertumbuhan
penduduk. Perkembangan kebudayaan dan timbulnya pranata-pranata sebagai akibat
perkembangan kebudayaan.
BAB
II. PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
2.1 Pengertian,
Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan
Penduduk atau Pertambahan penduduk adalah perubahan populasi
sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam
sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan
pertambahan penduduk merujuk pada semua spesies, namun selalu mengarah pada
manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai
pertambahan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk
dunia.
2.2 Perkembangan
Penduduk Dunia
Perkembangan jumlah penduduk
dunia sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban
manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Ada tiga tahap
perkembangan peradaban manusia hingga kini. Pertama, jaman ketika manusia mulai
mempergunakan alat-alat untuk menanggulangi kehidupan. Kedua, jaman ketika
manusia mulai mengembangkan usaha pertanian menetap. Ketiga, jaman era
dimulainya industrialisasi, yaitu sekitar pertengahan abad ke-17 sesudah
masehi.
Dalam
kerangka kerja perkembangan kebudayaan manusia itulah, beberapa tahapan atau
periode sejarah pertumbuhan penduduk dunia dirumuskan oleh para ahli. Angka
pertama yang dikemukakan mengenai jumlah penduduk dunia adalah 125.000 orang,
yang hidup kira-kira satu juta tahun yang lalu (Devey dalam Bland dan Dwight
E.Lee, 1976). Angka ini baru berkembang kira-kira satu juta orang setelah
mengalami proses pertumbuhan selama 700.000 tahun kemudian. Tingkat pertumbuhan
penduduk setiap tahun dalam era ini nyaris tidak berarti sama sekali, yakni
0,000041 persen.
Lambatnya
pertumbuhan penduduk pada era ini disebabkan karena tingginya tingkat kematian.
Pertumbuhan penduduk terlihat meningkat pada kira-kira 6000-9000 tahun yang
lampau,ketika teknik bertani sudah dikenal dan mulai
menyebar dibeberapa bagian dunia. Pertumbuhan penduduk merupakan
salah satu faktor yang menjadi masalah sosial ekonomi pada umumnya karena
dengan bertambahnya penduduk maka otomatis harus bertambah pula persediaan
sandang pangan, kesempatan kerja, serta fasilitas
umum, selain itu pertambahan penduduk akan menimbulkan berbagai masalah seerti bertmbahnya tingkat penganguran,kemiskinan, anak putus sekolah yang dapat pula menimbulkan berbagai kejahatan (kriminalitas).
umum, selain itu pertambahan penduduk akan menimbulkan berbagai masalah seerti bertmbahnya tingkat penganguran,kemiskinan, anak putus sekolah yang dapat pula menimbulkan berbagai kejahatan (kriminalitas).
Perkembangan jumlah
penduduk sejak tahun 1839 sampai tahun 2006 sebagai berikut :
Sumber : Iskandar N. Does Sampurno
Masalah Pertambahan Penduduk Di Indonesia
2.3 Pengandaan Penduduk Dunia
PENGGANDAAN PENDUDUK DUNIA
Sumber :
Ehrlich, Paul, R, et al, Human Ecology W.H. Freeman and Co San Franscisco
Waktu penggandaan adalah periode waktu yang diperlukan untuk
kuantitas untuk ganda dalam ukuran atau nilai. Hal ini diterapkan untuk
pertumbuhan penduduk, inflasi, ekstraksi sumberdaya, konsumsi barang, bunga
majemuk, volume tumor ganas, dan banyak hal lainnya yang cenderung tumbuh dari
waktu ke waktu. Waktu penggandaan penduduk dunia selanjutnya diperkirakan 35
tahun.
2.4 Faktor
– Faktor Demografi Yang Mempengaruhi Pertambahan Penduduk
Pertambahan
penduduk di suatu daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor demografi
antara lain:
1.
Kematian/Mortalitas
Kematian adalah hilangnya
tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen, dan bersifat mengurangi jumlah
penduduk. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian
(pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
2.
Kelahiran/Natalitas
Kelahiran bersifat
menambah jumlah penduduk.Angka kelahiran yaitu angka yang menunjukkan rata-rata
jumlah bayi yang lahir setiap 1000 penduduk dalam waktu satu tahun.
2.4.1
Rumus Tingkat Kematian Kasar
Angka
Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per 1000
penduduk pada pertengahan tahun tertentu (Data Statistik Indonesia-Angka
Kematian Kasar-Rumus), disuatu wilayah tertentu. Ada pun rumusnya sebagai
berikut :
Rumus: CDR = D/P x K
Dimana :
CDR = Crude Death
Rate (Angka Kematian Kasar).
D = Jumlah kematian
(death) pada tahun tertentu
P = Jumlah penduduk
pada pertengahan tahun tertentu
K = Bilangan konstan
1000
2.4.2
Rumus Tingkat Kematian
Khusus
Angka kematian khusus (Age Specific Death Rate/ASDR) yaitu
angka yang menunjukkan banyaknya kematian setiap 1.000 penduduk pada golongan
umur tertentu dalam waktu satu tahun. Rumusnya adalah jumlah kematian pada umur
tertentu dibagi dengan jumlah penduduk umur tertentu pada pertengahan tahun dan
dikalikan dengan konstanta yang biasanya bernilai 1000.
Rumus: ASDRx = Dx/Px
x 1000
Dimana :
ASDRx = Angka
Kematian khusus umur tertentu (x)
Dx = Jumlah Kematian
pada umur tertentu selama satu tahun
Px = Jumlah Penduduk
pada umur tertentu
1000 = Konstanta (k)
2.4.3
Menuliskan Angka
Kelahiran
Ada beberapa cara untuk menghitung besarnya angka kelahiran
yaitu:
1. Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate)
Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:
CBR = B/P x 1000
Dimana : CBR = Crude Birth Rate (Angka Kelahiran Kasar)
B = Jumlah kelahiran dalam satu tahun
P = Jumlah seluruh penduduk pada pertengahan tahun
1000 = konstanta
Angka kelahiran ini disebut kasar karena perhitungannya tidak
memperhatikan jenis kelamin dan umur penduduk, padahal yang dapat melahirkan
hanya penduduk wanita.
2. Angka kelahiran menurut kelompok umur (Age Specific
Fertiliy Rate) disingkat ASFR
Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:
ASFRx = Bx/Pfx x k
Dimana : ASFRx = Angka kematian menurut kelompok umur x
Bx = Jumlah Kelahiran dari wanita pada kelompok umur x
Pfx = Jumlah wanita pada kelompok umur x
K = Konstanta (angka 1000)
X = Umur wanita kelompok umur tertentu yang umumnya
dihitung tiap 5 tahun seperti 15 – 19 tahun, 20 – 24 tahun
dan seterusnya.
Dengan rumus tersebut kita dapat mengetahui kelompok umur
mana yang paling banyak terjadi kelahiran. Perlu diketahui bahwa usia 15 – 49
tahun adalah usia subur bagi wanita. Pada usia itulah wanita mempunyai
kemungkinan untuk dapat melahirkan anak.
2.5 Migrasi
2.5.1
Pengertian Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk
menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi
internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional). Dengan kata lain,
migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah
(negara) ke daerah (negara) lain.
Ada dua dimensi penting dalam penalaahan migrasi, yaitu
dimensi ruang/daerah (spasial) dan dimensi waktu.
2.5.2
Macam – Macam Migrasi
Berdasarkan wilayah yang dilaluinya migrasi terbagi atas 2
macam, yaitu : Migrasi Internasional dan Migrasi Internal.
1. Migrasi Internasional
Migrasi Internasional terjadi jika perpindahan penduduk
dilakukan melewati batas Negara. Dengan demikian, perpindahan yang terjadi
adalah perpindahan antarnegara. Misalnya perpindahan penduduk Indonesia ke
Amerika Serikat dan sebagainya.
Migrasi Internasional dilakukan oleh penduduk akrena beberapa
faktor. Diantaranya bekerja, melanjutkan sekolah, terjadi peperangan di negara
asal atau terjadi krisis ekonomi di Negara asalanya. Migrasi Internasional
dibatasi oleh berbagai aturan yang ketat tentang keimigrasian di masing-masing
negara tujuan. Hal ini dilakukan terutama oleh negara – negara maju untuk
menekan laju pendatang yang dapat mengganggu stabilitas negara tersebut.
Migrasi Internasional dapat terjadi dalam 2 cara, yaitu
migrasi ke luar (emigrasi) dan migrasi masuk (imigrasi). Penduduk yang
melakukan imigrasi disebut imigran. Adapun penduduk yang melakukan emigrasi
disebut emigran
2. Migrasi Internal
Migrasi Internal merupakan perpindahan penduduk dengan tujuan
menetap dari satu wilayah ke wilayah lainnya, tetapi masih dalam kesatuan
negara. Dengan kata lain, migrasi internal merupakan perpindahan penduduk antar
daerah di dalam negeri. Contohnya adalah perpindahan penduduk Medan ke Jakarta
dan sebagainya. Migrasi Internal yang terdapat di Indonesia antara lain adalah
urbanisasi dan transmigrasi.
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari wilayah perdesaan
ke wilayah perkotaan. Perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan terjadi
karena adanya daya tarik dari perkotaan dan daya dorong dari perdesaan.
Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah yang
padat ke daerah yang jarang penduduknya. Penduduk yang melakukan transmigrasi
dinamakan transmigran.Tujuan utama transmigrasi adalah menyebarkan penduduk
dari daerah yang padat ke daerah yang kurang padat. Selama 25 tahun, sekitar 6
juta penduduk telah dipindahkan dari wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok ke
pulau lain. Bagi daerah kritis, peran transmigrasi adalah untuk membantu
mengurangi kerusakan lingkungan, mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan
produktivitas daerah yang jarang penduduknya. Jadi, secara umum program
transmigrasi memiliki dampak positif bagi pembangunan nasional maupun daerah.
Transmigrasi tidak hanya merupakan upaya untuk memindahkan penduduknya.
Transmigrasi juga memberikan sumbangan yang positif dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pendapatan per kapita. Selain itu,
melalui program transmigrasi persatuan nasional dapat diperkokoh.
Berdasarkan penyababnya, transmigrasi dapat dibedakan atas 2
kelompok, yaitu transmigrasi umum dan transmigrasi spontan.
Transmigrasi Umum merupakan perpindahan penduduk yang
diorganisasi oleh pemerintah. Transmigran diberi lahan untuk diolah, keperluan
bercocok tanam, bahkan biaya hidup sebelum tanah yang diolah menghasilkan.
Selain itu, sebelum berangkat ke daerah tujuan transmigran umumnya dibekali
berbagai keterampilan.
Transmigrasi Spontan merupakan perpindahan penduduk yang
dilakukan atas inisiatif sendiri. Dalam hal ini pemerintah hanya merestui dan
member izin untuk membuka lahan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
2.5.3
Proses Migrasi
Proses migrasi pun punya cara yaitu:
1. Proses migrasi ia menetap di suatu wilayah
2. Proses migrasi hanya sementara diwilayah itu sewaktu-waktu ia
dapat kembali lagi ke wilayah tempat asalnya
3. Hanya sekedar berlibur diwilayah itu Proses keberangkatan
migrasi bisa dilakukan dengan cara-cara tertentu misalkan kalau imigran hanya
satu orang bisa melakukannya dengan naik sepeda motor, kalau imigran dengan
banyak orang satu keluarga maka bisa melakukannya dengan naik kendaraan roda empat
atau juga naik kapal laut itulah yang biasa dilakukan imigaran dalam melakukan
migarasi di Negara Indonesia.Tahun pun makin lama makin berlaju dan proses
imigrasi pun menjadi sangat lebih pesat dan perubahan yang terjadi dari mulai
tahun yang lalu higga tahu ini sangatlah banyak, pada tahun ini tercatat banyak
sekali imigran illegal/gelap yang tidak mendaftarkan dirinya pada sensus
penduduk pada kota asalnya balia semua itu terjadi begitu saja tanpa adanya
rasa kesadaran maka makin lama akan terjadi kepadatan penduduk akan teradi dan
susah menanganinya dikarenakan susahnya mendata para imigran.
2.5.4
Akibat Dari Migrasi
Berikut
ini adalah akibat yang muncul dari migrasi :
1. Akan terjadi pertikaian didalam suatu kota yang banyaknya
imigrasi dikarenakan banyaknya orang yang bersuku tidak sama, perbedaan sosial
budaya, pola pikiran yang tidak sepaham, adab tutur kata yang tidak sama, dan
memandang suatu nilai orang.
2. Akan cepatnya terjadi bencana alam, karena apabila imigran
datang tentu saja mereka mencari tempat tinggal, maka lahan penghijauan pun
menjadi sasaran untuk dibuatnya perumahan sehingga untuk resapan air pun
berkurang sehingga akan terjadi bencana alam banjir dan juga wabah penyakit.
3. Kesehatan menjadi harga yang lebih mahal di dalam kota
migrasi karena, makin banyak imigran yang datang dengan membawa alat
kendaraannya dan juga elektronik yang mempunyai radiasi dan polusi pun
dimana-mana.
4. Area perkuburan yang makin sempit dikarenakan lahan yang
letaknya seharusnya menjadi area pemakaman justru dibuat mall, jalan raya
besar, dan juga fasilitas prasarana lainnya.
5. Lahan pekerjaan yang sempit karena banyaknya orang yang mau
menetap di kota migrasi dengan mencari uang tetapi sudah banyaknya lahan
pekerjaan yang diambil orang dan juga peluang bisnis yang area penjualannya
sangat sempit.
2.6 Jenis
Struktur Penduduk
Ada tiga jenis struktur
penduduk :
1.
Piramida Penduduk Muda
Piramida ini
menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang berkembang.
Jumlah angka kelahiran lebih besar daripada jumlah kematian. Bentuk ini umumnya
kita lihat pada negara – negara yang sedang berkembang. Misalnya : India,
Brazil dan Indonesia
2.
Piramida Stationer
Bentuk piramida ini
menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis) sebab tingkat kematian
rendah dan tingkat kelahiran tidak begitu tinggi. Piramida penduduk yang
berbentuk system in iterdapat pada negara-negara yang maju seperti Swedia,
Belanda dan Skandinavia.
3.
Piramida Penduduk Tua
Bentuk piramida penduduk
ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang sangat pesat dan
tingkat kematian kecil sekali. Apabila angka kelahiran jenis kelamin pria
besar, maka suatu Negara bias kekurangan penduduk. Negara yang bentuk piramida
penduduknya seperti ini adalah Jerman, Inggris, Belgia dan Perancis.
2.7 Bentuk
Piramida Penduduk Stasioner, Muda, Tua
2.8 Pengertian
Rasio Ketergantungan
Rasio Ketergantungan
(Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14
tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan
jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut
usia yakni Rasio Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua.
Rasio Ketergantungan Muda
adalah perbandingan jumlah penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur
15 – 64 tahun.
Rasio Ketergantungan Tua
adalah perbandingan jumlah penduduk umur 65 tahun ke atas dengan jumlah
penduduk di usia 15-64 tahun.
Rasio ketergantungan
(dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat
menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau
negara yang sedang berkembang. Dependency ratiomerupakan salah satu indikator
demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak
produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratioyang semakin rendah
menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif
untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Rasio Ketergantungan
didapat dengan membagi total dari jumlah penduduk usia belum produktif (0-14
tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produktif (65 tahun keatas) dengan jumlah
penduduk usia produktif (15-64 tahun). Sehingga dengan demikian rasio
ketergantungan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Penduduk 0-14 +
Penduduk 65 ke atas
DR X 100
Penduduk 15-64
Atau
Pn0 – 14 + Pn65 ke
atas
DR + X 100
Pn 15 – 64
BAB
III. KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
3.1
Pertumbuhan
perkembangan budaya di Indonesia
Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di
Indonesia diawali dari zaman batu, yang terbagi menjadi dua yaitu:
Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Alat-alat batu pada zaman batu tua, baik
bentuk ataupun permukaan peralatan masih kasar, misalnya kapak genggam Kapak
genggam semacam itu kita kenal dari wilayah Eropa, Afrika, Asia Tengah, sampai
Punsjab(India), tapi kapak genggam semacam ini tidak kita temukan di daerah
Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian para ahli prehistori, bangsa-bangsa
Proto-Austronesia pembawa kebudayaan Neolithikum berupa kapak batu besar
ataupun kecil bersegi-segi berasal dari Cina Selatan, menyebar ke arah selatan,
ke hilir sungai-sungai besar sampai ke semenanjung Malaka Lalu menyebar ke
Sumatera, Jawa. Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, sampai ke Flores, dan
Sulawesi, dan berlanjut ke Filipina.
Kapak-kapak tersebut diasah sampai
mengkilap dan diikat pada tangkai kayu dengan menggunakan rotan. Sebagai
tambahan seiring persebaran kapak batu tersebut tersebar pula Bahasa
Proto-Austronesia yg merupakan induk dari bahasa dari bangsa-bangsa di sekitar
Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Karena perkembangannya muncul bahasa
melayu yang nantinya di negara Indonesia berkembang menjadi bahasa Indonesia
Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Ciri – ciri zaman batu muda :
Mulai menetap dan membuat rumah
Membentuk kelompok masyarakat desa
Bertani
Berternak untuk memenuhi kebutuhan hidup
Manusia pada zaman batu muda telah
mengenal dan memiliki kepandaian untuk mencairkan/melebur logam dari biji besi
dan menuangkan ke dalam cetakan dan mendinginkannya.
Bangsa-bangsa Proto-austronesia yang masuk
dari Semenanjung Indo-China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Dongson, dan
menyebar di Indonesia. Materi dari kebudayaan Dongson berupa senjata-senjata
tajam dan kapak berbentuk sepatu yang terbuat dari bahan perunggu
3.2
Kebudayaan
Hindu, Budha Dan Islam
Kebudayaan Hindu, Budha
Pada abad ke-3 dan ke-4 agama hindu mulai
masuk ke Indonesia di Pulau Jawa. Perpaduan atau akulturasi antara kebudayaan
setempat dengan kebudayaan. Sekitar abad ke 5 ajaran Budha masuk ke indonesia,
khususnya ke Pulau Jawa. Agama Budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju
dibandingkan Hinduisme,sebab budhisme tidak menghendaki adanya kasta-kasta
dalam masysrakat. Walaupun demikian, kedua agama itu di Indonesia, khususnya di
Pulau Jawa tumbuh dan berdampingan secara damai. Baik penganut hinduisme maupun
budhisme masng-masing menghasilkan karya- karya budaya yang bernilai tinggi
dalam seni bangunan, arsitektur, seni pahat, seni ukir, maupun seni sastra,
seperti tercermin dalam bangunan, relief yang diabadikan dalam candi-candi di
Jawa Tengah maupun di Jawa Timur diantaranya yaitu Borobudur, Mendut,
Prambanan, Kalasan, Badut, Kidal, Jago, Singosari, dll. Candi Borobudur
merupakan candi termegah di Asia Tenggara dan pernah tercatat sebagai 10
keajaiban dunia.
Kebudayaan Islam
Abad ke 15 dan 16 agama islam telah
dikembangkan di Indonesia, oleh para pemuka-pemuka islam yang disebut
Walisongo. Titik penyebaran agama Islam pada abad itu terletak di Pulau Jawa.
Abad ke 15 ketika kejayaan maritim Majapahit mulai surut , berkembanglah
negara-negara pantai yang dapat merongrong kekuasaan dan kewibawaan majapahit
yang berpusat pemerintahan di pedalaman. Negara- negara yang dimaksud adalah
Negara malaka di Semenanjung Malaka,Negara Aceh di ujung Sumatera, Negara
Banten di Jawa Barat, Negara Demak di Pesisir Utara Jawa Tengah, Negara Goa di
Sulawesi Selatan . Dalam proses perkembangan negara-negara tersebut yang
dikendalikan oleh pedagang. Pedagang kaya dan golongan bangsawan kota- kota
pelabuhan, nampaknya telah terpengaruh dan menganut agama Islam. Daerah-daerah
yang belum tepengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh
yang mendalam dalam kehidupan penduduk. Di daerah yang bersangkutan. Misalnya
Aceh, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Timur, Sumateraa Barat, dan Pesisr
Kalimantan.
BAB
IV. KEBUDAYAAN BARAT
4.1
Kebudayaan
Barat
Unsur kebudayaan barat juga memberi warna
terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah
kebudayaan Barat. Masuknya budaya Barat ke Negara Republik Indonesia ketika
kaum kolonialis atau penjajah masuk ke Indonesia, terutama bangsa Belanda.
Penguasaan dan kekuasaan perusahaan dagang Belanda (VOC) dan berlanjut dengan
pemerintahan kolonialis Belanda, di kota-kota propinsi, kabupaten muncul
bangunan-bangunan dengan bergaya arsitektur Barat. Dalam waktu yang sama,
dikota-kota pusat pemarintahan, terutama di Jawa, Sulawesi Utara, dan Maluku
berkembang dua lapisan sosial:
Lapisan sosial yang terdiri dari kaum
buruh.
Lapisan sosial yang terdiri dari kaum
pegawai.
Dalam kedua lapisan inilah pendidikan
barat di sekolah-sekolah kemampuan atau kemahiran Bahasa Belanda menjadi syarat
utama untuk mencapai kenaikan kelas. Akhirnya masih harus disebut sebagai
pengaruh Kebudayaan Eropa yang masuk juga ke dalam Kebudayaan Indonesia, ialah
agama Katolik dan Agama Kristen Protestan. Agama-agama tersebut biasanya
disiarkan dengan sengaja oleh organisasi penyiaran agama yang bersifat swasta.
Penyiaran dilakukan di daerah- daerah dengan penduduk yang belum pernah
mengalami pengaruh agama Hindu, Budha, atau Islam daerah itu misalnya Irian
Jaya, Maluku Tengah dan Selatan, Sulawesi Utara dan tengah, Nusa Tenggara Timur
dan Pedalaman Kalimantan.
BAB
V. KESIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA
5.1 Kesimpulan
Pertumbuhan penduduk
mempengaruhi pada perkembangan sosial dalam masyarakat. Perkembangan sosial
seperti seperti kurangnya pangan, rendahnya pendidikan masyarakat dll. Cara
mengatasi pembludakan pertumbuhan penduduk tersebut adalah dengan Membuat
Undang-Undang yang jelas tentang umur minimum pernikahan, Program KB (keluarga
berencana) dan sosialisasi pada masyarakat.
Pertumbuhan penduduk
sebuah desa di pinggiran kota yang menyebabkan banyaknyak urban masuk pada desa
yang telah menimbulkan berbagai persoalan di kawasan itu. Berbagai persoalan
yang muncul antara lain, tata ruang desa kota yang tidak beraturan, kondisi
lingkungan yang merosot, ketahanan pangan yang terancam, konflik sosial yang
cenderung meluas dan dipertahankan oleh ekslufisitas kelompok di dalam
komunitas itu dan ancaman tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang
baik.
Hal tersebut yang
mengakibatkan berbagai persoalan muncul dan cenderung tidak terkendali atas
terbentuknya suatu kawasan desa-kota yang tidak terencana dengan baik. Sebagai
konsekwensi dari meluasnya wilayah-wilayah perkotaan adalah berkembangnya
desa-desa di daerah pinggiran kota menjadi kawasan desa-kota. Fenomena ini
hampir terjadi di berbagai kota di Indonesia dan hingga saat ini tidak ada
suatu sistem perencanaan yang terpadu untuk mengatasi persoalan itu.
5.2 Daftar
Pustaka
1. Modul
Ilmu Sosial Dasar Universitas Gunadarma
3. http://ihwanudinsuryajaya.blogspot.co.id/2012/09/isd-pengertian-migrasi-macam-macam.html





Komentar
Posting Komentar